Infosumut24 | Taput – Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup mendorong Kasat Reskrim Polres Humbang Hasundutan, AKP. Hitler Hutagalung mengambil aksi nyata. Guna menekan timbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), ia resmi membuka usaha daur ulang sampah plastik di Desa Silando, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara.
Langkah ini diambil sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi sirkular dan penghematan energi. Melalui teknologi pengolahan tingkat lanjut, limbah plastik yang selama ini merusak lingkungan diubah menjadi berbagai produk fungsional bernilai guna tinggi.
“Botol plastik bekas diproses menjadi furnitur ramah lingkungan yang tahan air dan awet. Selain itu, limbah plastik juga diolah menjadi lembaran tali sebagai bahan baku keranjang atau anyaman” ujar Hitler, Selasa (16/6/2026).
Tidak hanya menjadi perabotan rumah tangga, sampah plastik tersebut juga direkayasa menjadi material struktural pengganti kayu atau semen. Dengan metode peleburan bersama pasir panas, limbah plastik dicetak menjadi paving block yang kokoh. Pada skala komersial, hasil daur ulang ini bahkan dapat diproses menjadi papan dinding dan bahan bangunan rumah.
Inovasi ini pun telah memasuki tahap uji coba yang matang. Hitler mengungkapkan bahwa pihaknya baru-baru ini telah mengirimkan sampel bahan hasil produksi ke sebuah perusahaan mitra di Jakarta yang telah sukses dalam industri daur ulang.
“Usaha yang berpusat di Desa Silando ini kini siap bergerak masif demi lingkungan. Kita siap menampung sampah plastik, seperti botol oli dan berbagai macam botol plastik bekas minuman” tambah Hitler.
Wakil Bupati, Deni Lumbantoruan saat dikonfirmasi berdirinya perusahaan daur ulang sampah plastik di Kabupaten Tapanuli Utara dan juga bentuk dukungannya, mengatakan ”Tentu kita sangat mengapresiasi dan sangat mendukung kegiatan yang dilakukan Pak Hitler Hutagalung. Sangat dan sangat mengapresiasi, atas dasar itu juga kita Pemkab Tapanuli Utara berkunjung beberapa waktu lalu untuk belajar dan membuat pengolahan sampah, juga bersama mitra kita”.
Penulis : Freddy Hutasoit









