INFOSUMUT24 | Dairi — Ditengah khidmatnya suasana bulan suci Ramadan, gelombang besar menghantam struktur birokrasi Pemerintah Kabupaten Dairi. Tepat saat sebagian besar umat muslim bersiap atau sedang menunaikan ibadah shalat Jumat, sebuah agenda penting kenegaraan digelar di kawasan religius Taman Wisata Iman (TWI) Sitinjo, Jumat (27/2/2026).
Bupati Dairi mengambil langkah berani dengan melakukan konsolidasi birokrasi skala besar. Sebanyak 78 pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Dairi resmi dirombak dan dilantik kembali dalam sebuah seremoni yang berlangsung di bawah payung udara sejuk perbukitan Sitinjo. Namun, pelantikan ini bukan sekadar rotasi rutin, ini adalah pesan tegas mengenai arah baru kebijakan daerah di sisa masa jabatan kepemimpinan saat ini.
Pusat perhatian publik tertuju pada sektor kesehatan, jantung pelayanan masyarakat. Keputusan yang paling menyita perhatian adalah pencopotan dr. Mey Margareta Sitanggang dari jabatannya sebagai Direktur RSUD Sidikalang. Sosok yang selama ini memimpin rumah sakit pelat merah tersebut kini dipindah tugaskan menjadi dokter ahli madya di Puskesmas Pegagan Julu 2, Kecamatan Sumbul.
Sebagai penggantinya, Bupati mempercayakan tongkat estafet kepemimpinan RSUD Sidikalang kepada dr. Benny Christony Purba. Penunjukan ini membawa harapan baru sekaligus beban berat bagi dr. Benny untuk meningkatkan kualitas layanan medis yang sering kali menjadi sorotan masyarakat Dairi.
Tak hanya dilevel eselon atas, pergeseran juga menyentuh unit pemerintahan terkecil. seperti Jabatan Lurah dan camat yang diharapkan mampu membawa semangat baru dalam pelayanan administrasi dan pemberdayaan warga di wilayah Dairi.
Namun, dibalik langkah konsolidasi ini, riak keberatan muncul dari kalangan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Pemilihan waktu pelantikan yang bertepatan dengan pelaksanaan ibadah shalat Jumat menuai kritik tajam. Bagi banyak pihak, waktu tersebut dianggap kurang tepat, mengingat pentingnya nilai spiritual hari Jumat, terlebih di tengah suasana bulan Ramadan yang penuh berkah.
Beberapa tokoh masyarakat dan tokok agama menyampaikan rasa kecewanya, menilai bahwa sebagai pelayan publik, pemerintah seharusnya lebih sensitif dalam mempertimbangkan jadwal agar tidak berbenturan dengan waktu ibadah esensial.
“Konsolidasi birokrasi memang perlu, tapi penghormatan terhadap waktu ibadah adalah simbol harmoni yang harus dijaga” ungkap salah satu tokoh yang enggan disebutkan namanya.
Dalam arahannya, Bupati Dairi menekankan bahwa perombakan ini didasari pada kebutuhan organisasi untuk mempercepat target pembangunan. 78 pejabat yang dilantik diminta untuk langsung tancap gas tanpa perlu masa adaptasi yang lama.
Kini, masyarakat Dairi menanti bukti nyata dari perubahan formasi ini. Apakah wajah baru di RSUD Sidikalang dan jajaran kelurahan mampu menjawab tantangan pelayanan yang lebih baik, ataukah momentum pelantikan di hari Jumat ini akan terus menjadi catatan kritis dalam perjalanan administrasi Kabupaten Dairi di tahun 2026.
Penulis : Bambang Ermansyah









